Tampilkan postingan dengan label Angutara Nikaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Angutara Nikaya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 Mei 2010

Tathagata

Ada satu orang yang muncul di dunia ini
demi kesejahteraan banyak makhluk,
demi kebahagiaan banyak makhluk,
atas welas asih terhadap dunia,
demi kebaikan, kesejahteraan, serta kebahagiaan
para dewa dan manusia.
Siapakah orang itu?
Itulah Tathagata, Araha,
Yang Tercerahkan Sempurna.
Inilah orang itu.

Ada satu orang yang muncul di dunia ini,
yang unik, tanpa banding, tanpa tanding,
tiada tara, tiada duanya, tiada padanannya,
yang terbaik di antara manusia.
Siapakah orang itu?
Itulah Tathagata, Araha,
Yang Tercerahkan Sempurna.
Inilah orang itu.

Anguttara Nikaya 1: xiii, 1, 5.

Senin, 05 April 2010

Kebaikan Diri Sendiri dan Kebaikan Orang Lain

"Setetes Dhamma Sebongkah Berlian"

Empat jenis orang ini, O para bhikkhu, terdapat di dunia ini. Apakah yang empat itu?
Ada orang yang hidup untuk kebaikannya sendiri tetapi tidak untuk kebaikan yang lain;
orang yang hidup untuk kebaikan orang lain tetapi tidak untuk kebaikannya sendiri;
orang yang hidup tidak untuk kebaikannya sendiri dan tidak juga untuk kebaikan orang lain; dan
orang yang hidup untuk kebaikannya sendiri dan untuk kebaikan orang lain.

Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup untuk kebaikannya sendiri tetapi tidak untuk kebaikan orang lain?
Dia berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian dan kebodohan batin di dalam dirinya, tetapi tidak mendorong orang lain untuk menghapus nafsu kebencian, dan kebodohan batin. Dia sendiri menjauhkan diri dari membunuh, mencuri, perilaku seksual yang salah, ucapan yang tidak benar dan zat-zat yang bersifat racun, tetapi dia tidak mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.

Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup untuk kebaikan orang lain tetapi tidak untuk kebaikannya sendiri?
Dia mendorong orang lain untuk menghilangkan nafsu, kebencian, dan kebodohan batin, tetapi dia sendiri tidak berlatih untuk menghapusnya. Dia mendorong orang lain untuk menjauhkan diri dari membunuh, mencuri, perilaku seksual yang salah, ucapan yang tidak benar dan zat-zat yang bersifat racun, tetapi dia sendiri tidak mempraktekkan pengendalian seperti itu.

Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup tidak untuk kebaikannya sendiri dan tidak juga untuk kebaikan orang lain?
Dia tidak berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian, dan kebodohan batinnya sendiri, dan tidak juga dia mendorong orang lain untuk melakukan itu. Dia sendiri tidak berlatih untuk menjauhkan diri dari membunuh dan sebagainya, dan tidak juga dia mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.

Dan para bhikkhu, bagaimana orang hidup untuk kebaikannya sendiri dan untuk kebaikan orang lain?
Dia sendiri berlatih untuk menghilangkan nafsu, kebencian, dan kebodohan batin, dan dia juga mendorong orang lain untuk melakukan itu. Dia sendiri berlatih menjauhkan diri dari membunuh dan sebagainya, dan dia juga mendorong orang lain untuk pengendalian seperti itu.

Angutara Nikaya IV, 96, 99.

Selasa, 30 Maret 2010

Happy Couple

Bila dua sejoli saling setia, murah hati, terkendali,
dan hidup dengan benar,
Mereka bersatu sebagai suami dan istri,
Begitu mengasihi satu sama lain.

Berlimpah berkah tercurah kepada mereka.
Mereka tinggal bersama dalam kebahagiaan.
Musuh-musuh mereka akan patah semangat,
Tatkala keduanya sepadan dalam kebajikan.

Setelah hidup sesuai Dhamma di dunia ini.
Sepadan dalam kebajikan dan keyakinan.
Setelah meninggal, mereka kembali bersuka cita di alam dewa.
Menikmati kebahagiaan berlimpah ruah.

Angutara Nikaya 4: 55; II 61-62.

Kamis, 15 Oktober 2009

Manfaat Berdana Makanan

Manfaat dari orang yang berdana makanan:
- Ia mendanakan kehidupan,
- Kecantikan,
- Kebahagiaan,
- Kekuatan, dan
- Kecerdasan.
Ia telah menanam benih kehidupan, yang bermanfaat untuk dirinya sendiri,
baik untuk kehidupan sekarang maupun akan datang.

~Anguttara Nikaya III, 42.

Kamis, 24 September 2009

Watch Your Words!

Seseorang yang bijaksana, tidak akan menceritakan keburukan orang lain. Sekalipun jika ia ditanya!
Namun, apabila ia perlu untuk berbicara,
Sepatutnya ia mengemukakan dengan hati-hati!
Inilah arti dari perkataan, "Orang tersebut bijaksana."

~Angutara Nikaya II, 78~