Dhammadesana oleh: Y.L. Viriya Nanda
Tanggal: 21 April 2013
Tempat: Vihara Dharmakirti
Tema: Satu hati satu tujuan satu keluarga
Cerita 1: ada pasangan baru menikah minta diberi air pemberkahan saat
pemberkatan pernikahannya. Mereka minta diberkati dengan harapan supaya
keluarganya bisa langgeng.
Cerita 2: ada seorang ibu minta air yang dibacakan mantra dari vihara,
karena anaknya sakit lupus. Ini adalah permintaan anaknya yang tidak
bisa bicara karena sakitnya. Setelah diberi air langsung bisa ngomong.
Lalu apa hubungan air pemberkahan pada dua cerita di atas dengan tema 1 hati 1 tujuan 1 keluarga?
Air pemberkahan bisa manjur karena adanya keyakinan. yang terpenting adalah satu hati, satu tujuan, satu keluarga.
Keluarga bukan hanya suami istri dan anak. Pada dasarnya keluarga memang
dimulai dari suami dan istri. Tapi ada juga jenis keluarga yang lain,
misalnya dalam organisasi. Apakah semua ingin harmonis? Pasti. Tapi
tidak selamanya harmonis. Keluarga kita bisa cekcok, apalagi keluarga
organisasi, semua tidak lepas dari pertengkaran. Setiap orang, setiap
makhluk, di alam manusia, alam hewan dan alam dewa, semua ingin
harmonis.
Apa sebab ada suatu pertengkaran?
Itu karena manusia memiliki sifat iri hati dan pikiran picik. Iri itu
adalah perasaan tidak senang melihat orang lain bahagia. Iri juga
berarti cemburu. Jika cemburu pasti kita merasa sesak. Adanya perasaan
cemburu karena ada perasaan suka. Kenapa ada perasaan suka, karena ada
perasaan ingin memiliki. Dan rasa suka itu menimbulkan rasa posesif.
Dalam buddhis disebut tanha. Akibat dari punya perasaan iri, picik,
cemburu, maka batin akan menderita. Kita jadi tidak bisa tidur.
Bagaimana agar tidak muncul perasaan iri dan picik?
Yaitu dengan menumbuhkan cinta. Cinta itu adalah memberi. Kalau dalam
dhamma yaitu melaksanakan hak dan kewajiban. Wujud cinta adalah
pengendalian diri. Jika Anda cinta pada pasangan Anda, maka Anda tidak
akan selingkuh, tidak ada seleweng. Jika cinta anak, maka akan sayang
kepada anak. Jika cinta pada orangtua maka akan berbakti. Jika cinta
lingkungan maka tidak akan buang sampah sembarangan agar tidak banjir.
Kewajiban suami terhadap istri: memberi nafkah, memberi makan, duit,
pakaian, perhiasan, secara batin memberi pujian. Bukan hanya dalam
keluarga saja harus memberi pujian, tapi dalam organisasi juga. Jika
tidak mau istri punya PIL, maka harus beri pujian. Jangan hanya pada
saat pacaran saja memuji-muji. Atau, memberi pujian jika ada maunya
saja. Pujian itu penting.
Kewajiban istri: melayani suami, memberi makan, merawat anak, menjaga
harta suami, merawat rumah, dan memberi pujian juga. Istri juga perlu
memberikan pujian kepada suaminya. Jangan lupa anak juga memberi pujian.
Dalam bermasyarakat, wujud cinta adalah melaksanakan kewajiban-kewajiban.
Kewajiban umat Buddha: berbuat baik.
Tujuan dalam hidup (cita-cita):
1. Ingin cukup materi. Ukuran dalam dhamma adalah cukup. Jika berlebihan maka akan serakah.
2. Ingin punya kedudukan yang tinggi. Punya kedudukan bukan aji mumpung.
Gunakan kesempatan pada saat punya jabatan tinggi untuk berbuat baik.
3. Ingin hidup sehat dan umur panjang. Bagaimana supaya berumur panjang?
Jangan memperpendek umur makhluk lain. Bisa juga dengan fangshen. Kalau
ingin sehat, harus olahraga. Jangan lupa untuk berbuat baik.
Jika kita sudah punya semuanya maka gunakan untuk berbuat baik, sehingga kita bisa terlahir di alam surga.
Dalam keluarga, kita harus punya cinta dan cita. Ketika kita sudah
memiliki itu, maka kita akan berbahagia. Dengan demikian hidup kita akan
harmonis.
Tampilkan postingan dengan label Dhammadesana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhammadesana. Tampilkan semua postingan
Minggu, 21 April 2013
Sabtu, 20 April 2013
Perkataan Benar
Dhammadesana oleh: Bapak Hendra Wijaya
Tanggal: 14 April 2013
Tempat: Vihara Dharmakirti
Buddha bukan hanya mengajarkan jangan berkata dusta, tapi juga perkataan benar.
Perkataan benar ada 4 hal:
- tidak berkata dusta
- jangan berkata kasar
- tidak berkata fitnah
- tidak bergosip (omongan sampah)
Kenapa di Pancasila Buddhis hanya disebutkan tidak berkata dusta?
Karena itu adalah yang paling sulit. Orang bisa berkata halus, tapi isinya bohong. Kalau perkataan kasar itu pasti perkataan tidak benar. Fitnah, itu sudah pasti bohong. Tidak bergosip juga adalah bohong.
Ajaran Buddha kepada Rahula:
"Demikianlah Rahula seharusnya engkau melatih diri, aku tak akan berkata bohong sekalipun dalam canda."
Ada orang bilang, "Mulutnya ini kasar tapi hatinya baik."
Benarkah pernyataan itu?
Mulut kasar, pada saat ia teriak-teriak pasti hatinya tak baik, ini menurut standar Buddha.
Dalam mendidik anak jangan sampai memaki-maki. Kata Buddha, jangan menyakiti anak seperti itu. Buddha tidak pernah membentak. Jika ada orang salah, berkatalah dengan damai, penuh kasih sayang. Itu standar Buddha.
Menghindari perkataan kosong. Perkataan kosong (sampah) maksudnya yaitu kata-kata tak bermanfaat secara spiritual. Contoh: kata-kata mengenai raja (pemimpin negara), kata-kata tentang mencoleng (copet), kata-kata tentang para mentri, tentang tentara, perang, tentang makan dan minum, tentang kota, daerah, tentang perempuan, pahlawan, asal mula semesta.
Pada jaman dulu banyak pelawak yang menghibur org. Ada yang percaya bahwa pelawak sesudah meninggal bisa terlahir menjadi dewa. Kata Buddha: "Orang-orang yang suka menghibur orang lain dengan kata-kata sampah yang kata-katanya berdasarkan lobha, dosa, moha, maka ketika orang tersebut mati ia akan lahir di neraka tawa. Dan, orang-orang yang percaya pada orang pelawak ini, ia akan terlahir di alam sengsara juga.
Bagaimana cara berbicara yang benar?
1. Jika suatu perkataan tidak benar, tidak bermanfaat dan tidak menyenangkan, maka jangan ngomong.
2. Kalau benar tapi tak bermanfaat dan tidak menyenangkan, jangan ngomong.
3. Kalau benar dan bermanfaat, tapi tidak menyenangkan, maka cari waktu yang tepat.
4. Kalau tidak benar, tidak bermanfaat, tapi menyenangkan, jangan ngomong.
5. Kalau tidak benar, bermanfaat, menyenangkan, jangan ngomong.
6. Kalau benar, bermanfaat, menyenangkan, silakan ngomong tapi cari waktu yang tepat.
Kesimpulan: kita patut ngomong kalau perkataan itu benar dan bermanfaat. Menyenangkan atau tidak, itu urusan nanti.
Contoh: jika pegawai malas, kita omongin di depan umum, itu tidak boleh walau benar dan bermanfaat. Yang bagusnya: cari waktu yang tepat untuk ngomong, jangan memarahi di depan umum. Ajak pegawai bicara di ruang khusus.
Menurut Ajahn Brahm, sebelum ngomong tanya 3 pertanyaan pada diri sendiri:
1. Apakah saya perlu ngomong? Apakah perlu diomongkan? Penting nggak?
2. Apakah ini benar-benar penting sekali?
3. Apakah ini benar-benar sangat penting sekali?
Apa yang keluar dari mulut kita, jauh lebih penting daripada apa yang masuk.
~Ajahn Brahm
Maksudnya ucapan kita seharusnya penuh damai dan kasih sayang.
Seandainya kita sudah baik hati dan berucap benar tapi lalu dihina orang, bagaimana sikap kita seharusnya?
Buddha berkata ada resepnya:
1. Menumbuhkan kasih sayang pada orang itu.
2. Menumbuhkan kewelasan
3. Dengan ketenangan dan keseimbangan diri.
4. Tidak menghiraukan orang tersebut.
5. Baca paritta. Sabbe satta kamayoni, kamabandhu. Jika dia berbuat salah, dia terima sendiri akibatnya.
Yang berbahaya itu reaksi kita.
Menurut Buddha, perkataan itu tidak terlalu penting. Kisahnya ada di Dhammapada 259.
Karena, biarpun kata-kata itu sedikit, tapi memancarkan kasih sayang, maka itu lebih baik daripada kata-kata yang panjang lebar tapi tidak ada kasih sayang.
Tanggal: 14 April 2013
Tempat: Vihara Dharmakirti
Buddha bukan hanya mengajarkan jangan berkata dusta, tapi juga perkataan benar.
Perkataan benar ada 4 hal:
- tidak berkata dusta
- jangan berkata kasar
- tidak berkata fitnah
- tidak bergosip (omongan sampah)
Kenapa di Pancasila Buddhis hanya disebutkan tidak berkata dusta?
Karena itu adalah yang paling sulit. Orang bisa berkata halus, tapi isinya bohong. Kalau perkataan kasar itu pasti perkataan tidak benar. Fitnah, itu sudah pasti bohong. Tidak bergosip juga adalah bohong.
Ajaran Buddha kepada Rahula:
"Demikianlah Rahula seharusnya engkau melatih diri, aku tak akan berkata bohong sekalipun dalam canda."
Ada orang bilang, "Mulutnya ini kasar tapi hatinya baik."
Benarkah pernyataan itu?
Mulut kasar, pada saat ia teriak-teriak pasti hatinya tak baik, ini menurut standar Buddha.
Dalam mendidik anak jangan sampai memaki-maki. Kata Buddha, jangan menyakiti anak seperti itu. Buddha tidak pernah membentak. Jika ada orang salah, berkatalah dengan damai, penuh kasih sayang. Itu standar Buddha.
Menghindari perkataan kosong. Perkataan kosong (sampah) maksudnya yaitu kata-kata tak bermanfaat secara spiritual. Contoh: kata-kata mengenai raja (pemimpin negara), kata-kata tentang mencoleng (copet), kata-kata tentang para mentri, tentang tentara, perang, tentang makan dan minum, tentang kota, daerah, tentang perempuan, pahlawan, asal mula semesta.
Pada jaman dulu banyak pelawak yang menghibur org. Ada yang percaya bahwa pelawak sesudah meninggal bisa terlahir menjadi dewa. Kata Buddha: "Orang-orang yang suka menghibur orang lain dengan kata-kata sampah yang kata-katanya berdasarkan lobha, dosa, moha, maka ketika orang tersebut mati ia akan lahir di neraka tawa. Dan, orang-orang yang percaya pada orang pelawak ini, ia akan terlahir di alam sengsara juga.
Bagaimana cara berbicara yang benar?
1. Jika suatu perkataan tidak benar, tidak bermanfaat dan tidak menyenangkan, maka jangan ngomong.
2. Kalau benar tapi tak bermanfaat dan tidak menyenangkan, jangan ngomong.
3. Kalau benar dan bermanfaat, tapi tidak menyenangkan, maka cari waktu yang tepat.
4. Kalau tidak benar, tidak bermanfaat, tapi menyenangkan, jangan ngomong.
5. Kalau tidak benar, bermanfaat, menyenangkan, jangan ngomong.
6. Kalau benar, bermanfaat, menyenangkan, silakan ngomong tapi cari waktu yang tepat.
Kesimpulan: kita patut ngomong kalau perkataan itu benar dan bermanfaat. Menyenangkan atau tidak, itu urusan nanti.
Contoh: jika pegawai malas, kita omongin di depan umum, itu tidak boleh walau benar dan bermanfaat. Yang bagusnya: cari waktu yang tepat untuk ngomong, jangan memarahi di depan umum. Ajak pegawai bicara di ruang khusus.
Menurut Ajahn Brahm, sebelum ngomong tanya 3 pertanyaan pada diri sendiri:
1. Apakah saya perlu ngomong? Apakah perlu diomongkan? Penting nggak?
2. Apakah ini benar-benar penting sekali?
3. Apakah ini benar-benar sangat penting sekali?
Apa yang keluar dari mulut kita, jauh lebih penting daripada apa yang masuk.
~Ajahn Brahm
Maksudnya ucapan kita seharusnya penuh damai dan kasih sayang.
Seandainya kita sudah baik hati dan berucap benar tapi lalu dihina orang, bagaimana sikap kita seharusnya?
Buddha berkata ada resepnya:
1. Menumbuhkan kasih sayang pada orang itu.
2. Menumbuhkan kewelasan
3. Dengan ketenangan dan keseimbangan diri.
4. Tidak menghiraukan orang tersebut.
5. Baca paritta. Sabbe satta kamayoni, kamabandhu. Jika dia berbuat salah, dia terima sendiri akibatnya.
Yang berbahaya itu reaksi kita.
Menurut Buddha, perkataan itu tidak terlalu penting. Kisahnya ada di Dhammapada 259.
Karena, biarpun kata-kata itu sedikit, tapi memancarkan kasih sayang, maka itu lebih baik daripada kata-kata yang panjang lebar tapi tidak ada kasih sayang.
Jumat, 19 April 2013
Kejujuran
Dhammadesana oleh: Romo Girinanda
Tanggal: 7 April 2013
Tempat: Vihara Dharmakirti
Belajar dari hujan. Ada seorang nenek punya 2 orang putra, jual payung dan jual es.
Pada musim hujan si nenek senang karena anaknya yang jual payung laris tapi dia sedih karena anak yang jualan es tidak laku. Dan sebaliknya.
Akhirnya dia jadi menderita.
Penderitaan ini diciptakan oleh pikiran.
Proses belajar bisa dari mana saja, hujan, peristiwa di pasar, persembahan. Di mana saja bisa belajar dhamma.
Pada buku "20 kesulitan dalam kehidupan" karya Master Cheng Yen: sulit bagi orang miskin untuk berdana. Kadang bagi orang suka merasa tidak cukup untuk berdana. Padahal berdana tidak hanya uang. Bisa dengan cara donor darah. Ada contoh orang lumpuh yang akhirnya sembuh karena dikunjungi relawan, ia lalu berbuat kebajikan melalui spirit.
Karaniya metta sutta bait 1.
Apakah masih ada manusia yang seperti bait 1? Masih adakah orang jujur? Kejujuran adalah suatu praktek dhamma. Di theravada ada 10 paramita. Siapapun yang ingin jadi Buddha harus sempurnakan 10 itu. Salah satunya adalah sacca (kejujuran).
Orang yang jujur hidupnya pasti tenang. Kalau orang yang banyak bohong pasti tidak tenang karena dihantui oleh kesalahan yang dilakukan.
1 saja ini dilakukan, ini pasti akan membuat hidup bahagia walaupun tidak memakai jubah (menjadi bhikkhu). Satu ini dilatih secara konsisten. Dan jika dilakukan maka dunia ini akan aman. Jika semua orang di dunia ini jujur, menurut sang Buddha, maka usia manusia akan bertambah.
Pada suatu sutta, dijelaskan usia manusia pernah 80ribu tahun, lalu berkurang menjadi 40ribu tahun karena banyak pembunuhan. Lalu menjadi 20ribu karena banyak kebohongan. Usia manusia kemudian menjadi turun dan terus turun.
Karena suka berbohong, ada ketakutan. Maka ada tekanan batin sehingga mudah sakit, pikiran sakit, dan banyak sekali penderitaan yang kita alami. Maka benar seperti kata sang Buddha, jika jujur maka usia akan bertambah. Dengan praktek jujur kita akan merasa bahagia.
Suami istri atau orang berpacaran, jika mau awet harus jujur. Jika tidak jujur, ada yang disembunyikan maka tinggal tunggu bom waktu maka akan hancur.
Pandangan ekonomi Buddhis, ketika kita berjualan mencari untung sebesar-besarnya maka itu menimbulkan keserakahan. Dan keserakahan akan menimbulkan ketidaktenangan.
Pada suatu saat sang Buddha pernah terlahir sebagai pedagang. Saat itu ada pesaingnya yang juga seorang pedagang. Buddha berjualan kendi. Pada suatu ketika, karena Buddha melatih kejujuran, ada seorang nenek punya guci emas mau dijual. Nenek itu jual pada pedagang ke-2. Pedagang itu tahu bahwa harga guci nenek itu mahal, maka ia katakan guci itu tak berharga. Maka nenek itu tak jadi jual padanya. Nenek pindah ke toko lain. Pedagang ke-2 karena serakah ingin memiliki guci. Nenek jual ke Buddha. Buddha jujur, Ia bilang ditukar dengan tokonya pun takkan terbayar. Nenek bilang tak apa-apa yang penting ada beras untuk makan. Akhirnya guci diberikan pada Buddha. Pedagang ke-2 tidak senang, ia jadi dendam. Karena dendam menumpuk ia mati dengan muntah darah dan tercipta pikiran kebencian sampai kelahiran berikutnya menjadi musuh Buddha, yang selalu ingin merusak kehidupan Beliau.
Dari kisah tersebut disimpulkan bahwa kejujuran membawa manfaat, membawa berkah.
Coba dengarkan suara hati. Jika mendengar itu, maka pikiran dan perbuatan akan baik, berjalan di jalur kejujuran. Karena pikiran mudah menciptakan keserakahan, dengan mendengarkan suara hati maka tidak serakah lagi. Ini adalah metode untuk melatih kejujuran.
Manfaat kejujuran:
Tenang, tidak ada rasa bersalah, percaya diri dan hidup lebih hepi.
Suara hati adalah apa adanya, dan itulah kebenaran, dan itulah kejujuran.
Tanggal: 7 April 2013
Tempat: Vihara Dharmakirti
Belajar dari hujan. Ada seorang nenek punya 2 orang putra, jual payung dan jual es.
Pada musim hujan si nenek senang karena anaknya yang jual payung laris tapi dia sedih karena anak yang jualan es tidak laku. Dan sebaliknya.
Akhirnya dia jadi menderita.
Penderitaan ini diciptakan oleh pikiran.
Proses belajar bisa dari mana saja, hujan, peristiwa di pasar, persembahan. Di mana saja bisa belajar dhamma.
Pada buku "20 kesulitan dalam kehidupan" karya Master Cheng Yen: sulit bagi orang miskin untuk berdana. Kadang bagi orang suka merasa tidak cukup untuk berdana. Padahal berdana tidak hanya uang. Bisa dengan cara donor darah. Ada contoh orang lumpuh yang akhirnya sembuh karena dikunjungi relawan, ia lalu berbuat kebajikan melalui spirit.
Karaniya metta sutta bait 1.
Apakah masih ada manusia yang seperti bait 1? Masih adakah orang jujur? Kejujuran adalah suatu praktek dhamma. Di theravada ada 10 paramita. Siapapun yang ingin jadi Buddha harus sempurnakan 10 itu. Salah satunya adalah sacca (kejujuran).
Orang yang jujur hidupnya pasti tenang. Kalau orang yang banyak bohong pasti tidak tenang karena dihantui oleh kesalahan yang dilakukan.
1 saja ini dilakukan, ini pasti akan membuat hidup bahagia walaupun tidak memakai jubah (menjadi bhikkhu). Satu ini dilatih secara konsisten. Dan jika dilakukan maka dunia ini akan aman. Jika semua orang di dunia ini jujur, menurut sang Buddha, maka usia manusia akan bertambah.
Pada suatu sutta, dijelaskan usia manusia pernah 80ribu tahun, lalu berkurang menjadi 40ribu tahun karena banyak pembunuhan. Lalu menjadi 20ribu karena banyak kebohongan. Usia manusia kemudian menjadi turun dan terus turun.
Karena suka berbohong, ada ketakutan. Maka ada tekanan batin sehingga mudah sakit, pikiran sakit, dan banyak sekali penderitaan yang kita alami. Maka benar seperti kata sang Buddha, jika jujur maka usia akan bertambah. Dengan praktek jujur kita akan merasa bahagia.
Suami istri atau orang berpacaran, jika mau awet harus jujur. Jika tidak jujur, ada yang disembunyikan maka tinggal tunggu bom waktu maka akan hancur.
Pandangan ekonomi Buddhis, ketika kita berjualan mencari untung sebesar-besarnya maka itu menimbulkan keserakahan. Dan keserakahan akan menimbulkan ketidaktenangan.
Pada suatu saat sang Buddha pernah terlahir sebagai pedagang. Saat itu ada pesaingnya yang juga seorang pedagang. Buddha berjualan kendi. Pada suatu ketika, karena Buddha melatih kejujuran, ada seorang nenek punya guci emas mau dijual. Nenek itu jual pada pedagang ke-2. Pedagang itu tahu bahwa harga guci nenek itu mahal, maka ia katakan guci itu tak berharga. Maka nenek itu tak jadi jual padanya. Nenek pindah ke toko lain. Pedagang ke-2 karena serakah ingin memiliki guci. Nenek jual ke Buddha. Buddha jujur, Ia bilang ditukar dengan tokonya pun takkan terbayar. Nenek bilang tak apa-apa yang penting ada beras untuk makan. Akhirnya guci diberikan pada Buddha. Pedagang ke-2 tidak senang, ia jadi dendam. Karena dendam menumpuk ia mati dengan muntah darah dan tercipta pikiran kebencian sampai kelahiran berikutnya menjadi musuh Buddha, yang selalu ingin merusak kehidupan Beliau.
Dari kisah tersebut disimpulkan bahwa kejujuran membawa manfaat, membawa berkah.
Coba dengarkan suara hati. Jika mendengar itu, maka pikiran dan perbuatan akan baik, berjalan di jalur kejujuran. Karena pikiran mudah menciptakan keserakahan, dengan mendengarkan suara hati maka tidak serakah lagi. Ini adalah metode untuk melatih kejujuran.
Manfaat kejujuran:
Tenang, tidak ada rasa bersalah, percaya diri dan hidup lebih hepi.
Suara hati adalah apa adanya, dan itulah kebenaran, dan itulah kejujuran.
Jumat, 01 Maret 2013
Melepas Beban
Ceramah Romo Aryananda.
Tanggal 24 Feb 2013
Di Vihara Dharmakirti, Palembang
Melepas beban pada pikiran perasaan pada tubuh kita.
Semua orang ingin bahagia, sehingga muncul inspirasi ingin membahagiakan orang lain.
Bahagia muncul dari rasa puas. Jika tidak puas maka tidak bahagia.
Jadi ortu jangan egois, karena ego memaksakan anak mengikuti kemauan ortu.
Tanpa pemahaman dharma hidup kita akan kering, kita tidak bisa mengahadapi keadaan, kita susah beradaptasi dengan orang-orang.
Jika anak narkoba, ortu yang tidak punya pemahaman dharma akan mengusir anak, karena gengsi nama baik tercemar. Padahal ortu turut andil anak-anak sampai begitu. Kadang-kadang ortu tidak memahami, menghukum anak. Hanya dengan kasih sayanglah anak dapat berubah.
Semua orang ingin bahagia, tapi seringkali kita tidak melakukan sebab-sebab yang dapat membuat bahagia, malah sebaliknya melakukan hal-hal yang membuat tidak bahagia.
Misal, kita iri, benci, serakah, dendam, ini kita masukkan ke dalam pikiran. Maka kita tidak akan bahagia karena di pikiran hanya ada hal-hal seperti itu. Kita tidak akan damai, tenteram karena ada beban pikiran.
Pikiran dan beban itu membuat kita stress dan tidak bisa menikmati hidup. Inilah yang harus kita lepas. Caranya hanya dengan mengembangkan cinta kasih. Dengan cinta kasih maka beban pikiran akan hilang dengan sendirinya.
Beban ego kita hilangkan dengan cinta kasih. Begitu kita memperhatikan orang-orang yang menderita, ego kita terkikis dengan sendirinya.
Beban sakit hati akan hilang jika kita mau memaafkan. Itu akan melonggarkan hati, akan menghilangkan sakit hati, akan menimbulkan suatu kesehatan yang baik.
Beban kejengkelan hilangkanlah dengan mengerti orang lain, bahwa orang lain itu tidak sama dengan kita. Kalau kita bisa menerima kelemahan orang lain maka kita tidak akan jengkel. Jangan menuntut orang lain seperti kita inginkan sehingga kita tidak jengkel.
Rasa kecewa membuat tidak nyaman. Apa yang ada dinikmati saja. Banyaklah melihat kelebihan daripada kelemahan. Kalau hanya melihat kelemahan maka kita akan stres. Setiap orang pasti punya kekurangan karena belum sempurna. Kekurangan itu harap dimaklumi. Lihatlah kelebihannya.
Kalau mensyukuri apa yang ada tentu tak akan kecewa. Kalau bersyukur tidak akan ada rasa iri.
Lepaskan semua beban (keinginan-keinginan yang banyak, pikiran-pikiran jahat, pikiran buruk) sehingga bisa bahagia, damai, tenteram.
Tanggal 24 Feb 2013
Di Vihara Dharmakirti, Palembang
Melepas beban pada pikiran perasaan pada tubuh kita.
Semua orang ingin bahagia, sehingga muncul inspirasi ingin membahagiakan orang lain.
Bahagia muncul dari rasa puas. Jika tidak puas maka tidak bahagia.
Jadi ortu jangan egois, karena ego memaksakan anak mengikuti kemauan ortu.
Tanpa pemahaman dharma hidup kita akan kering, kita tidak bisa mengahadapi keadaan, kita susah beradaptasi dengan orang-orang.
Jika anak narkoba, ortu yang tidak punya pemahaman dharma akan mengusir anak, karena gengsi nama baik tercemar. Padahal ortu turut andil anak-anak sampai begitu. Kadang-kadang ortu tidak memahami, menghukum anak. Hanya dengan kasih sayanglah anak dapat berubah.
Semua orang ingin bahagia, tapi seringkali kita tidak melakukan sebab-sebab yang dapat membuat bahagia, malah sebaliknya melakukan hal-hal yang membuat tidak bahagia.
Misal, kita iri, benci, serakah, dendam, ini kita masukkan ke dalam pikiran. Maka kita tidak akan bahagia karena di pikiran hanya ada hal-hal seperti itu. Kita tidak akan damai, tenteram karena ada beban pikiran.
Pikiran dan beban itu membuat kita stress dan tidak bisa menikmati hidup. Inilah yang harus kita lepas. Caranya hanya dengan mengembangkan cinta kasih. Dengan cinta kasih maka beban pikiran akan hilang dengan sendirinya.
Beban ego kita hilangkan dengan cinta kasih. Begitu kita memperhatikan orang-orang yang menderita, ego kita terkikis dengan sendirinya.
Beban sakit hati akan hilang jika kita mau memaafkan. Itu akan melonggarkan hati, akan menghilangkan sakit hati, akan menimbulkan suatu kesehatan yang baik.
Beban kejengkelan hilangkanlah dengan mengerti orang lain, bahwa orang lain itu tidak sama dengan kita. Kalau kita bisa menerima kelemahan orang lain maka kita tidak akan jengkel. Jangan menuntut orang lain seperti kita inginkan sehingga kita tidak jengkel.
Rasa kecewa membuat tidak nyaman. Apa yang ada dinikmati saja. Banyaklah melihat kelebihan daripada kelemahan. Kalau hanya melihat kelemahan maka kita akan stres. Setiap orang pasti punya kekurangan karena belum sempurna. Kekurangan itu harap dimaklumi. Lihatlah kelebihannya.
Kalau mensyukuri apa yang ada tentu tak akan kecewa. Kalau bersyukur tidak akan ada rasa iri.
Lepaskan semua beban (keinginan-keinginan yang banyak, pikiran-pikiran jahat, pikiran buruk) sehingga bisa bahagia, damai, tenteram.
Rabu, 27 Februari 2013
Dhammatalk: Meredam Marah Menebar Metta
Meredam Marah Menebar Metta
Oleh: Bhante Uttamo
Moderator: Mr. Ponijan Liauw
Orang marah mengurangi berkah dan menambah musibah. Orang ramah menambah berkah mengurangi musibah.
Marah >< Ramah.
-Mr. Ponijan Liauw
Orang marah cepat tua, karena ada banyak syaraf yang tertarik di muka yang menyebabkan muka jadi berkerut-kerut sehingga membuat cepat tua.
-Mr. Ponijan Liauw
Inti Dhammatalk:
Sebab marah: - apa yang diinginkan tidak didapat
- apa yang didapat tidak diinginkan
Akibat marah:
- gangguan kesehatan.
Orang marah tensi darahnya bisa naik, bisa sakit jantung. Bisa stress. Lalu berakibat depresi, akhirnya bisa cepat mati.
- di kehidupan berikutnya terlahir dengan wajah buruk rupa, muka seperti orang marah
- di kehidupan berikutnya bisa terlahir di alam asura, karena di alam tersebut untuk mendapatkan sesuatu harus marah-marah atau berkelahi dulu
Ada 4 M untuk meredam marah: 1.Merelakan
Melepas. Bahwa segala sesuatu ada waktunya. Apa yang kita miliki suatu saat akan lepas.
Apa yang kita dapatkan bukan yang kita inginkan maka relakan.
Supaya rela: melihat hidup ada hikmahnya.
2.Mengucapkan kata-kata yang baik/positif.
Salah satu wujud metta adalah mengatakan kata-kata baik. Tidak bisa kita mengatakan bahwa memaki-maki tapi dengan metta. Jangan gampang mencela. Lebih baik memuji. Jika ada hal tidak menyenangkan, katakan hal positif terlebih dahulu, setelah itu baru memberi tahu yang tidak bagusnya. Misalnya anak kita nilai rapornya ada merah dua. Pujilah dulu nilai yang hitam. Setelah itu katakan bahwa jika yang merah berubah jadi hitam maka akan lebih bagus lagi.
3. Melakukan tindakan yang bermanfaat untuk orang yang kita sayangi maupun semua makhluk.
4. Menghindari sikap sombong, tinggi hati, arogan.
Karena tidak ada orang yang suka dengan kesombongan.
Oleh: Bhante Uttamo
Moderator: Mr. Ponijan Liauw
Orang marah mengurangi berkah dan menambah musibah. Orang ramah menambah berkah mengurangi musibah.
Marah >< Ramah.
-Mr. Ponijan Liauw
Orang marah cepat tua, karena ada banyak syaraf yang tertarik di muka yang menyebabkan muka jadi berkerut-kerut sehingga membuat cepat tua.
-Mr. Ponijan Liauw
Inti Dhammatalk:
Sebab marah: - apa yang diinginkan tidak didapat
- apa yang didapat tidak diinginkan
Akibat marah:
- gangguan kesehatan.
Orang marah tensi darahnya bisa naik, bisa sakit jantung. Bisa stress. Lalu berakibat depresi, akhirnya bisa cepat mati.
- di kehidupan berikutnya terlahir dengan wajah buruk rupa, muka seperti orang marah
- di kehidupan berikutnya bisa terlahir di alam asura, karena di alam tersebut untuk mendapatkan sesuatu harus marah-marah atau berkelahi dulu
Ada 4 M untuk meredam marah: 1.Merelakan
Melepas. Bahwa segala sesuatu ada waktunya. Apa yang kita miliki suatu saat akan lepas.
Apa yang kita dapatkan bukan yang kita inginkan maka relakan.
Supaya rela: melihat hidup ada hikmahnya.
2.Mengucapkan kata-kata yang baik/positif.
Salah satu wujud metta adalah mengatakan kata-kata baik. Tidak bisa kita mengatakan bahwa memaki-maki tapi dengan metta. Jangan gampang mencela. Lebih baik memuji. Jika ada hal tidak menyenangkan, katakan hal positif terlebih dahulu, setelah itu baru memberi tahu yang tidak bagusnya. Misalnya anak kita nilai rapornya ada merah dua. Pujilah dulu nilai yang hitam. Setelah itu katakan bahwa jika yang merah berubah jadi hitam maka akan lebih bagus lagi.
3. Melakukan tindakan yang bermanfaat untuk orang yang kita sayangi maupun semua makhluk.
4. Menghindari sikap sombong, tinggi hati, arogan.
Karena tidak ada orang yang suka dengan kesombongan.
Minggu, 24 Februari 2013
Agar Bebas dari Stress
Ceramah oleh: Romo Aryananda
Tanggal: 21 Oktober 2012
Jika ingin bebas dari stress harus bebaskan pikiran.
Jangan melekat pada apapun yang kita miliki, misal: jasmani, usaha, dll.
Tidak menuntut harus begini harus begitu, maka tidak ada beban di pikiran.
Jangan membebani orang lain, karena bisa menciptakan ketidak-bahagiaan pada orang lain, kita sendiri pun jadi tidak bahagia.
Apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Inilah hukum alam. Inilah karma.
Jika selalu mengembangkan cinta kasih, walaupun hanya dalam pikiran atau dalam meditasi, ternyata gelombang ini akan menyentuh semua di sekitar kita, makhluk-makhluk di sekitar akan merasakan gelombang cinta kasih. Gelombang cinta kasih ini akan mendamaikan orang yang ada di dalam rumah, bahkan makhluk-makhluk yang ada di sekitar kita. Ini disebut juga anumodana (berbagi) kepada semua makhluk.
Sebaliknya jika kita selalu benci, makhluk-makhluk sekitar juga akan merasakan. Sesuai hukum karma, jika kita penuh dengan kebencian maka kita akan menemukan keadaan-keadaan, orang-orang yang juga penuh kebencian.
Jika kita mempunyai kasih sayang, maka orang-orang, keadaan-keadaan di sekitar kita juga akan penuh kasih sayang.
Stress akan mempengaruhi sistem-sistem pada tubuh kita, seperti: sistem pencernaan, pernapasan, otak, kekebalan tubuh, menjadi gampang emosi, gampang tersinggung, gampang marah, bahkan hormon-hormon juga terganggu.
Jika pikiran tenang, sistem-sistem dalam tubuh akan bagus, maka tubuh kita akan sehat.
Dengan meditasi bisa mengeluarkan energi-energi negatif dalam tubuh kita, sehingga kita bisa lebih damai dan bahagia.
Tanggal: 21 Oktober 2012
Jika ingin bebas dari stress harus bebaskan pikiran.
Jangan melekat pada apapun yang kita miliki, misal: jasmani, usaha, dll.
Tidak menuntut harus begini harus begitu, maka tidak ada beban di pikiran.
Jangan membebani orang lain, karena bisa menciptakan ketidak-bahagiaan pada orang lain, kita sendiri pun jadi tidak bahagia.
Apapun yang kita lakukan akan kembali kepada kita. Inilah hukum alam. Inilah karma.
Jika selalu mengembangkan cinta kasih, walaupun hanya dalam pikiran atau dalam meditasi, ternyata gelombang ini akan menyentuh semua di sekitar kita, makhluk-makhluk di sekitar akan merasakan gelombang cinta kasih. Gelombang cinta kasih ini akan mendamaikan orang yang ada di dalam rumah, bahkan makhluk-makhluk yang ada di sekitar kita. Ini disebut juga anumodana (berbagi) kepada semua makhluk.
Sebaliknya jika kita selalu benci, makhluk-makhluk sekitar juga akan merasakan. Sesuai hukum karma, jika kita penuh dengan kebencian maka kita akan menemukan keadaan-keadaan, orang-orang yang juga penuh kebencian.
Jika kita mempunyai kasih sayang, maka orang-orang, keadaan-keadaan di sekitar kita juga akan penuh kasih sayang.
Stress akan mempengaruhi sistem-sistem pada tubuh kita, seperti: sistem pencernaan, pernapasan, otak, kekebalan tubuh, menjadi gampang emosi, gampang tersinggung, gampang marah, bahkan hormon-hormon juga terganggu.
Jika pikiran tenang, sistem-sistem dalam tubuh akan bagus, maka tubuh kita akan sehat.
Dengan meditasi bisa mengeluarkan energi-energi negatif dalam tubuh kita, sehingga kita bisa lebih damai dan bahagia.
Rabu, 30 Desember 2009
Tanya-Jawab Minggu 27 Desember 2009
Narasumber: UP. Chandra Kirana Sri Maryati & UP. Dirghayu Darwis Hidayat.
1. Pada saat persamuan, setelah membaca paritta, keluarga yang mengadakan persamuan akan menuangkan air ke gelas dan bhante yang diundang akan membacakan doa. Apa maksud dari menuangkan air tersebut?
Jawab:
Sebetulnya acara tersebut tidak hanya dilakukan pada saat persamuan saja, tapi bisa juga diadakan saat mengundang anggota Sangha untuk makan di rumah kita, atau untuk acara pemberkatan rumah, dan lain-lain. Sebaiknya gelas untuk menuangkan air lebih besar dari gelas untuk menampung air, lalu gelas untuk menampung air diletakkan di dalam mangkok. Maksudnya adalah untuk pelimpahan jasa bagi keluarga yang masih hidup dan untuk keluarga yang sudah meninggal, juga pelimpahan jasa bagi semua makhluk yang membutuhkan.
2. Untuk keluarga yang sudah meninggal, biasanya kita membacakan paritta sampai hari ke-7 dan di hari ke-49. Apa maksud dari pembacaan paritta tersebut? Apa yang harus kita lakukan jika ada keluarga yang meninggal?
Jawab:
Pembacaan paritta itu untuk mengingatkan almarhum bahwa mereka sudah di alam lain, kita sebaiknya membacakan sutra-sutra atau paritta, seperti Aniccavata Sankhara. Hal ini mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu yang terbentuk di dunia ini adalah tidak kekal. Pembacaan paritta itu juga untuk membantu mereka agar terlahir di alam yang lebih baik. Kremasi lebih baik daripada penguburan, karena penguburan prosesnya lebih lama: pembiruan, pembengkakan, pecah(pertama di perut karena banyak mengandung zat cair), lalu keluar nanah dan darah sehingga menimbulkan belatung yang memakan daging, hingga akhirnya tinggal kerangka. Kremasi akan mempercepat proses tumimbal lahir. Lalu kita juga sebaiknya mengadakan pelimpahan jasa kepada orang yang meninggal tersebut. Pelimpahan jasa harus dengan cara yang benar, harus dengan jerih payah dan usaha yang benar agar bisa membantu almarhum terlahir di alam berbahagia. Pelimpahan jasa dapat dilakukan dengan cara mencetak buku-buku yang bermanfaat dan memberi pencerahan (misalnya buku dharma), berdana untuk vihara atau sekolah, dan lain-lain.
3. Air yang sudah dipersembahkan di altar apakah boleh diminum?
Jawab:
Boleh. Air yang dibacakan paritta dan sugesti yang baik akan membawa hasil yang baik bagi orang yang meminumnya. Ada penelitian yang mengungkapkan bahwa molekul air berubah menjadi baik dan warna molekulnya bagus karena air tersebut dibacakan kata-kata yang baik. Sedangkan air yang selalu diberikan kata-kata kasar maka molekulnya menjadi tidak bagus. Oleh sebab itu, kita perlu menjaga kata-kata kita, kita perlu memberi sugesti yang baik pada diri kita sendiri. Jika pagi-pagi bangun tidur, katakanlah hal-hal yang baik. Jika selalu mengeluh, maka hidup pun akan mengikuti kata-kata keluhan itu, selalu menderita. Perlu sekali bagi kita untuk mengucapkan kata-kata yang baik.
4. Apa beda tumimbal lahir dan reinkarnasi? Mengapa orang Tibet selalu mencari reinkarnasi dari guru mereka yang baru meninggal? Apakah hal demikian termasuk kemelekatan?
Jawab:
Tumimbal lahir = punarbhava, adalah ajaran agama Buddha, sedangkan reinkarnasi berasal dari ajaran Hindu.
Di India dan Tibet, guru yang meninggal akan dicari reinkarnasi di mana. Hal ini disebabkan oleh tradisi di negara tersebut, bukan karena kemelekatan. Karena tradisi negara tersebut, mereka menganggap bahwa guru adalah orang yang bisa mencerahkan dan bisa membimbing, semua omongan guru selalu dipegang. Jadi, mereka akan mencari guru mereka lahir lagi di mana, berdasarkan pemikiran dan pertanyaan yang logis (misal, benda apa yang dimiliki) mereka akan menemukan guru mereka.
5. Ini adalah tentang chiu tau. Apa benar dengan mantra akan ada dewa yang melindungi dan dengan chiu tau ada tiket masuk surga?
Jawab:
Membaca paritta ribuan kali pun tetapi tindakan tidak benar, maka percuma saja. Para perampok, pencuri dan orang jahat dichiu tau, alangkah enaknya bisa langsung masuk surga. Tentang adanya tiket masuk surga itu adalah pandangan yang salah. Kita terlahir di alam surga bukan karena pandita, mantra atau chiu tau, tetapi tergantung dari perbuatan baik yang sudah kita lakukan. Dalam hal ini kita perlu memahami tentang karma dan mengingat paritta Brahmaviharaparana: kammayoni, kambandhu, ..., yam kammam karisanti kalyanam va papakam va tassa dayada bhavisanti, apa pun karma yang diperbuatnya baik atau buruk itulah yang akan diwarisinya.
Chiu tau berasal dari kata chiu (artinya memohon) dan tau (artinya ajaran). Tidak ada seorang pun dan apa pun yang dapat menjamin seseorang masuk surga. Di ajaran Buddha yang sebenarnya, tidak ada jaminan untuk masuk surga, yang ada adalah Tisarana, berlindung pada Buddha dan menjalankan Dharma ajaran kebenaran. Yang menjamin seseorang masuk surga bukan agamanya, bukan labelnya, melainkan perbuatan orang itu sendiri. Tidak peduli agama apa pun, jika ia berbuat baik maka ia akan masuk surga.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..
1. Pada saat persamuan, setelah membaca paritta, keluarga yang mengadakan persamuan akan menuangkan air ke gelas dan bhante yang diundang akan membacakan doa. Apa maksud dari menuangkan air tersebut?
Jawab:
Sebetulnya acara tersebut tidak hanya dilakukan pada saat persamuan saja, tapi bisa juga diadakan saat mengundang anggota Sangha untuk makan di rumah kita, atau untuk acara pemberkatan rumah, dan lain-lain. Sebaiknya gelas untuk menuangkan air lebih besar dari gelas untuk menampung air, lalu gelas untuk menampung air diletakkan di dalam mangkok. Maksudnya adalah untuk pelimpahan jasa bagi keluarga yang masih hidup dan untuk keluarga yang sudah meninggal, juga pelimpahan jasa bagi semua makhluk yang membutuhkan.
2. Untuk keluarga yang sudah meninggal, biasanya kita membacakan paritta sampai hari ke-7 dan di hari ke-49. Apa maksud dari pembacaan paritta tersebut? Apa yang harus kita lakukan jika ada keluarga yang meninggal?
Jawab:
Pembacaan paritta itu untuk mengingatkan almarhum bahwa mereka sudah di alam lain, kita sebaiknya membacakan sutra-sutra atau paritta, seperti Aniccavata Sankhara. Hal ini mengingatkan mereka bahwa segala sesuatu yang terbentuk di dunia ini adalah tidak kekal. Pembacaan paritta itu juga untuk membantu mereka agar terlahir di alam yang lebih baik. Kremasi lebih baik daripada penguburan, karena penguburan prosesnya lebih lama: pembiruan, pembengkakan, pecah(pertama di perut karena banyak mengandung zat cair), lalu keluar nanah dan darah sehingga menimbulkan belatung yang memakan daging, hingga akhirnya tinggal kerangka. Kremasi akan mempercepat proses tumimbal lahir. Lalu kita juga sebaiknya mengadakan pelimpahan jasa kepada orang yang meninggal tersebut. Pelimpahan jasa harus dengan cara yang benar, harus dengan jerih payah dan usaha yang benar agar bisa membantu almarhum terlahir di alam berbahagia. Pelimpahan jasa dapat dilakukan dengan cara mencetak buku-buku yang bermanfaat dan memberi pencerahan (misalnya buku dharma), berdana untuk vihara atau sekolah, dan lain-lain.
3. Air yang sudah dipersembahkan di altar apakah boleh diminum?
Jawab:
Boleh. Air yang dibacakan paritta dan sugesti yang baik akan membawa hasil yang baik bagi orang yang meminumnya. Ada penelitian yang mengungkapkan bahwa molekul air berubah menjadi baik dan warna molekulnya bagus karena air tersebut dibacakan kata-kata yang baik. Sedangkan air yang selalu diberikan kata-kata kasar maka molekulnya menjadi tidak bagus. Oleh sebab itu, kita perlu menjaga kata-kata kita, kita perlu memberi sugesti yang baik pada diri kita sendiri. Jika pagi-pagi bangun tidur, katakanlah hal-hal yang baik. Jika selalu mengeluh, maka hidup pun akan mengikuti kata-kata keluhan itu, selalu menderita. Perlu sekali bagi kita untuk mengucapkan kata-kata yang baik.
4. Apa beda tumimbal lahir dan reinkarnasi? Mengapa orang Tibet selalu mencari reinkarnasi dari guru mereka yang baru meninggal? Apakah hal demikian termasuk kemelekatan?
Jawab:
Tumimbal lahir = punarbhava, adalah ajaran agama Buddha, sedangkan reinkarnasi berasal dari ajaran Hindu.
Di India dan Tibet, guru yang meninggal akan dicari reinkarnasi di mana. Hal ini disebabkan oleh tradisi di negara tersebut, bukan karena kemelekatan. Karena tradisi negara tersebut, mereka menganggap bahwa guru adalah orang yang bisa mencerahkan dan bisa membimbing, semua omongan guru selalu dipegang. Jadi, mereka akan mencari guru mereka lahir lagi di mana, berdasarkan pemikiran dan pertanyaan yang logis (misal, benda apa yang dimiliki) mereka akan menemukan guru mereka.
5. Ini adalah tentang chiu tau. Apa benar dengan mantra akan ada dewa yang melindungi dan dengan chiu tau ada tiket masuk surga?
Jawab:
Membaca paritta ribuan kali pun tetapi tindakan tidak benar, maka percuma saja. Para perampok, pencuri dan orang jahat dichiu tau, alangkah enaknya bisa langsung masuk surga. Tentang adanya tiket masuk surga itu adalah pandangan yang salah. Kita terlahir di alam surga bukan karena pandita, mantra atau chiu tau, tetapi tergantung dari perbuatan baik yang sudah kita lakukan. Dalam hal ini kita perlu memahami tentang karma dan mengingat paritta Brahmaviharaparana: kammayoni, kambandhu, ..., yam kammam karisanti kalyanam va papakam va tassa dayada bhavisanti, apa pun karma yang diperbuatnya baik atau buruk itulah yang akan diwarisinya.
Chiu tau berasal dari kata chiu (artinya memohon) dan tau (artinya ajaran). Tidak ada seorang pun dan apa pun yang dapat menjamin seseorang masuk surga. Di ajaran Buddha yang sebenarnya, tidak ada jaminan untuk masuk surga, yang ada adalah Tisarana, berlindung pada Buddha dan menjalankan Dharma ajaran kebenaran. Yang menjamin seseorang masuk surga bukan agamanya, bukan labelnya, melainkan perbuatan orang itu sendiri. Tidak peduli agama apa pun, jika ia berbuat baik maka ia akan masuk surga.
Sabbe satta bhavantu sukhitatta.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..
Minggu, 20 Desember 2009
Harta Kekayaan Utama
Ceramah Dhamma Minggu, 20 Desember 2009.
Oleh: Bapak Darwis Hidayat, MM.
7 harta/kekayaan yang harus dimiliki:
1. Sadha = keyakinan.
2. Sila = menjaga moral.
3. Hiri = rasa malu berbuat jahat.
4. Otapa = takut akan akibat berbuat jahat.
5. Sutta = ajaran tentang kebenaran.
6. Cagga = kedermawanan.
7. Panna = kebijaksanaan.
Oleh: Bapak Darwis Hidayat, MM.
7 harta/kekayaan yang harus dimiliki:
1. Sadha = keyakinan.
2. Sila = menjaga moral.
3. Hiri = rasa malu berbuat jahat.
4. Otapa = takut akan akibat berbuat jahat.
5. Sutta = ajaran tentang kebenaran.
6. Cagga = kedermawanan.
7. Panna = kebijaksanaan.
Minggu, 22 November 2009
Kiamat 2012??
Minggu, 22 November 2009
Ceramah Dharma oleh: Y.M. Bhante Nyana Pundarika.
Sekarang ini sedang nge-trend orang membicarakan tentang kiamat tahun 2012. Dengan adanya berita ini, lantas apakah kita harus menghamburkan-hamburkan uang dan berfoya-foya hanya karena kiamat sudah dekat? Jika tidak kiamat, maka habislah harta kita. Tidak ada gunanya berfoya-foya. Kiamat itu masih lama. Sang Buddha telah mengajarkan kepada kita tentang kiamat sejak 2500 tahun yang lalu.
Sesungguhnya kiamat, tsunami, bencana-bencana itu ada di dalam diri kita. Bencana-bencana itu berupa kebencian, kemarahan, dan semua pikiran/perbuatan buruk yang ada di dalam diri kita. Yang harus kita lakukan adalah melenyapkan segala hal buruk yang ada dalam diri kita. Kita melakukan perbuatan baik, membuat kebajikan kepada orang-orang di sekitar kita, kepada papa, mama dan keluarga, dan kepada teman-teman kita.
Bumi ini sudah berjuta tahun umurnya. Lapisan ozon semakin menipis. Es di kutub utara dan selatan mulai mencair. Orang-orang mengebor minyak mengakibatkan lapisan-lapisan bumi menjadi berlubang. Kegiatan manusia inilah yang membuat terjadinya banjir dan gempa. Bencana-bencana itu pasti sewaktu-waktu akan terjadi. Kita tidak dapat mencegahnya. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga lingkungan kita.
Kita dapat melakukan kebajikan dimulai saat bangun tidur, kita berterimakasih masih bisa bernapas dan masih bisa melakukan perbuatan baik. Kita bertemu dengan orang- orang, kita tersenyum. Maka orang yang melihatnya akan merasa bahagia. Kita dapat membuat orang bahagia dengan perhatian-perhatian kecil yang tulus. Misalnya di rumah. Jika istri melihat suaminya baru pulang dibuatkan makanan. Atau anak melihat bapaknya pulang kerja dan lelah maka anak menawarkan untuk memijat. Dari hal-hal kecil inilah dapat membuat orang berbahagia.
Contoh lain yaitu, kita tahu Bhante Vajragiri sedang sakit. Tetapi beliau cepat sembuh. Suster-suster dan dokter pun jadi bingung. Mengapa? Karena bhante-bhante dan samanera sering menghibur beliau, membuat cerita yang lucu-lucu, sehingga beliau merasa senang. Begitu pula hendaknya yang kita lakukan jika kita menjaga orang yang sakit. Jika menjaga orang sakit, kita tidak boleh ikut stress karena akan berdampak pada pasien, pasien akan lambat sembuh. Yang seharusnya kita lakukan adalah menghibur dan membuat pasien tersbut bahagia, sehingga dia akan cepat sembuh.
Jika membenci seseorang, kita akan ingat terus dengan orang tersebut. Kita melihat orang tersebut, kita jadi emosi dan menjadi bertambah benci. Kalau sudah demikian, tidak akan ada damai dalam hati kita. Kita seharusnya belajar melepaskan, belajar mengasihi. Setiap saat kita berpikir: "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Dengan demikian, hati kita menjadi tenang, hidup kita damai, dan tidak ada lagi rasa benci.
Orang-orang jaman sekarang berlomba-lomba untuk memberikan penghargaan, seperti poligami terbanyak, paling cantik, paling ini, paling itu. Tetapi, tidak ada penghargaan untuk orang yang berbuat baik. Kita sebagai umat Buddha boleh merasa bangga karena agama Buddha terpilih sebagai agama yang terbaik. Orang-orang pandai dari tiap agama berkumpul untuk mendiskusikan agama mana yang terbaik, dan agama Buddhalah yang dipilih. Dalam agama Buddha tidak pernah ada peperangan. Agama Buddha mengajarkan cinta kasih. Tetapi, tidak ada seorangpun utusan agama Buddha yang mengambil penghargaan tersebut. Mengapa? Karena kita tidak perlu penghargaan tersebut. Agama Buddha bukanlah agama, tetapi pedoman hidup yang mengajarkan tentang kehidupan. Buddha mempunyai prinsip Ehipassiko (datang, lihat, dan buktikan kebenarannya).
-----------
Marilah kita sebagai umat Buddha berbuat kebajikan. Orang mau bilang kiamat sebentar lagi, biarkan saja. Kita tetap menjalankan Dharma dalam kehidupan kita. Kita berbuat baik dan membuat kedamaian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..
Ceramah Dharma oleh: Y.M. Bhante Nyana Pundarika.
Sekarang ini sedang nge-trend orang membicarakan tentang kiamat tahun 2012. Dengan adanya berita ini, lantas apakah kita harus menghamburkan-hamburkan uang dan berfoya-foya hanya karena kiamat sudah dekat? Jika tidak kiamat, maka habislah harta kita. Tidak ada gunanya berfoya-foya. Kiamat itu masih lama. Sang Buddha telah mengajarkan kepada kita tentang kiamat sejak 2500 tahun yang lalu.
Sesungguhnya kiamat, tsunami, bencana-bencana itu ada di dalam diri kita. Bencana-bencana itu berupa kebencian, kemarahan, dan semua pikiran/perbuatan buruk yang ada di dalam diri kita. Yang harus kita lakukan adalah melenyapkan segala hal buruk yang ada dalam diri kita. Kita melakukan perbuatan baik, membuat kebajikan kepada orang-orang di sekitar kita, kepada papa, mama dan keluarga, dan kepada teman-teman kita.
Bumi ini sudah berjuta tahun umurnya. Lapisan ozon semakin menipis. Es di kutub utara dan selatan mulai mencair. Orang-orang mengebor minyak mengakibatkan lapisan-lapisan bumi menjadi berlubang. Kegiatan manusia inilah yang membuat terjadinya banjir dan gempa. Bencana-bencana itu pasti sewaktu-waktu akan terjadi. Kita tidak dapat mencegahnya. Yang bisa kita lakukan adalah menjaga lingkungan kita.
Kita dapat melakukan kebajikan dimulai saat bangun tidur, kita berterimakasih masih bisa bernapas dan masih bisa melakukan perbuatan baik. Kita bertemu dengan orang- orang, kita tersenyum. Maka orang yang melihatnya akan merasa bahagia. Kita dapat membuat orang bahagia dengan perhatian-perhatian kecil yang tulus. Misalnya di rumah. Jika istri melihat suaminya baru pulang dibuatkan makanan. Atau anak melihat bapaknya pulang kerja dan lelah maka anak menawarkan untuk memijat. Dari hal-hal kecil inilah dapat membuat orang berbahagia.
Contoh lain yaitu, kita tahu Bhante Vajragiri sedang sakit. Tetapi beliau cepat sembuh. Suster-suster dan dokter pun jadi bingung. Mengapa? Karena bhante-bhante dan samanera sering menghibur beliau, membuat cerita yang lucu-lucu, sehingga beliau merasa senang. Begitu pula hendaknya yang kita lakukan jika kita menjaga orang yang sakit. Jika menjaga orang sakit, kita tidak boleh ikut stress karena akan berdampak pada pasien, pasien akan lambat sembuh. Yang seharusnya kita lakukan adalah menghibur dan membuat pasien tersbut bahagia, sehingga dia akan cepat sembuh.
Jika membenci seseorang, kita akan ingat terus dengan orang tersebut. Kita melihat orang tersebut, kita jadi emosi dan menjadi bertambah benci. Kalau sudah demikian, tidak akan ada damai dalam hati kita. Kita seharusnya belajar melepaskan, belajar mengasihi. Setiap saat kita berpikir: "Semoga semua makhluk hidup berbahagia." Dengan demikian, hati kita menjadi tenang, hidup kita damai, dan tidak ada lagi rasa benci.
Orang-orang jaman sekarang berlomba-lomba untuk memberikan penghargaan, seperti poligami terbanyak, paling cantik, paling ini, paling itu. Tetapi, tidak ada penghargaan untuk orang yang berbuat baik. Kita sebagai umat Buddha boleh merasa bangga karena agama Buddha terpilih sebagai agama yang terbaik. Orang-orang pandai dari tiap agama berkumpul untuk mendiskusikan agama mana yang terbaik, dan agama Buddhalah yang dipilih. Dalam agama Buddha tidak pernah ada peperangan. Agama Buddha mengajarkan cinta kasih. Tetapi, tidak ada seorangpun utusan agama Buddha yang mengambil penghargaan tersebut. Mengapa? Karena kita tidak perlu penghargaan tersebut. Agama Buddha bukanlah agama, tetapi pedoman hidup yang mengajarkan tentang kehidupan. Buddha mempunyai prinsip Ehipassiko (datang, lihat, dan buktikan kebenarannya).
-----------
Marilah kita sebagai umat Buddha berbuat kebajikan. Orang mau bilang kiamat sebentar lagi, biarkan saja. Kita tetap menjalankan Dharma dalam kehidupan kita. Kita berbuat baik dan membuat kedamaian. Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Sadhu.. Sadhu.. Sadhu..
Minggu, 27 September 2009
Tanya Jawab Minggu 270909
Narasumber: UP. Chandra Kirana Sri Maryati, S.Ag.
1. Jika saya bekerja di perusahaan yang menjual minuman keras, apakah hal tersebut dilarang agama Buddha, karena dalam Pancasila Buddhis sila ke-5 disebutkan tentang menghindari makanan dan minuman yang dapat menghilangkan kesadaran, padahal atasan saya orangnya baik. Apakah saya harus berhenti bekerja?
Jawab:
Dalam Pancasila Buddhis memang disebutkan demikian. Tapi, apabila Anda tidak ikut minum minuman keras maka hal itu tidak bertentangan. Anda bisa tetap bekerja di sana karena faktor ekonomi, Anda butuh uang untuk hidup. Selain itu juga tergantung dengan pikiran Anda, apakah hal tersebut baik atau tidak. Pekerjaan Anda sama halnya dengan orang yang bekerja di peternakan ayam atau menjadi nelayan. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selama mereka mengerti Pancasila Buddhis, mereka bisa tetap bekerja mengumpulkan uang. Jika ada modal, ada baiknya membuka usaha lain yang tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis. Tapi, jika Anda berpikir tidak baik jika bekerja di sana, mungkin Anda bisa mencari kerja di tempat lain yang lebih baik dan tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.
2. Jika suami istri berbeda agama, kemudian salah satu meninggal, doa dalam agama apa yang harus diberikan?
Jawab:
Sebenarnya, suami istri lebih baik jika mempunyai keyakinan yang sama. Tapi, apabila dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan, maka tidak ada masalah. Jika salah satu meninggal, pasangannya bisa mendoakan dalam agama dia sendiri atau bisa juga mengundang orang-orang yang seagama dengan suami/istri yang meninggal, atau dapat dilakukan doa dari kedua agama.
3. Apakah dalam agama Buddha ada doa untuk mengusir roh halus dan untuk menyembuhkan orang yang kerasukan makhluk halus?
Jawab:
Dalam agama Buddha tidak ada doa seperti itu, karena yang diajarkan Guru Buddha adalah cinta kasih. Kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk. Itulah sebabnya ada kalimat "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" artinya "Semoga semua makhluk berbahagia." Jika kita memasuki suatu tempat, mau pergi atau ke manapun, ada baiknya mengucapkan hal tersebut: "Semoga semua makhluk berbahagia." Ada sebuah peristiwa di Lubuklinggau. Ada seorang anak bepergian ke Bukit Sulap. Mungkin karena berlari-lari atau buang air sembarangan, ada roh yang merasa terganggu, maka anak itu kerasukan. Romo/pendeta dipanggil untuk menyembuhkan anak itu, tapi tidak berhasil. Ustadz pun dipanggil, tapi juga tidak dapat menyembuhkannya. Akhirnya, dipanggillah romo agama Buddha. Beliau membacakan doa "Karaniya Metta Sutta", doa cinta kasih kepada semua makhluk. Rupanya makhluk yang ada di tubuh anak tersebut minta dibacakan sekali lagi paritta tersebut. Setelah dibacakan lagi, roh tersebut pergi dan anak itu pun sembuh. Inilah kekuatan cinta kasih universal. Di manapun kita berada, kita sebaiknya memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta."
1. Jika saya bekerja di perusahaan yang menjual minuman keras, apakah hal tersebut dilarang agama Buddha, karena dalam Pancasila Buddhis sila ke-5 disebutkan tentang menghindari makanan dan minuman yang dapat menghilangkan kesadaran, padahal atasan saya orangnya baik. Apakah saya harus berhenti bekerja?
Jawab:
Dalam Pancasila Buddhis memang disebutkan demikian. Tapi, apabila Anda tidak ikut minum minuman keras maka hal itu tidak bertentangan. Anda bisa tetap bekerja di sana karena faktor ekonomi, Anda butuh uang untuk hidup. Selain itu juga tergantung dengan pikiran Anda, apakah hal tersebut baik atau tidak. Pekerjaan Anda sama halnya dengan orang yang bekerja di peternakan ayam atau menjadi nelayan. Mereka bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup. Selama mereka mengerti Pancasila Buddhis, mereka bisa tetap bekerja mengumpulkan uang. Jika ada modal, ada baiknya membuka usaha lain yang tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis. Tapi, jika Anda berpikir tidak baik jika bekerja di sana, mungkin Anda bisa mencari kerja di tempat lain yang lebih baik dan tidak bertentangan dengan Pancasila Buddhis.
2. Jika suami istri berbeda agama, kemudian salah satu meninggal, doa dalam agama apa yang harus diberikan?
Jawab:
Sebenarnya, suami istri lebih baik jika mempunyai keyakinan yang sama. Tapi, apabila dapat menciptakan kerukunan dan keharmonisan, maka tidak ada masalah. Jika salah satu meninggal, pasangannya bisa mendoakan dalam agama dia sendiri atau bisa juga mengundang orang-orang yang seagama dengan suami/istri yang meninggal, atau dapat dilakukan doa dari kedua agama.
3. Apakah dalam agama Buddha ada doa untuk mengusir roh halus dan untuk menyembuhkan orang yang kerasukan makhluk halus?
Jawab:
Dalam agama Buddha tidak ada doa seperti itu, karena yang diajarkan Guru Buddha adalah cinta kasih. Kita memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk. Itulah sebabnya ada kalimat "Sabbe satta bhavantu sukhitatta" artinya "Semoga semua makhluk berbahagia." Jika kita memasuki suatu tempat, mau pergi atau ke manapun, ada baiknya mengucapkan hal tersebut: "Semoga semua makhluk berbahagia." Ada sebuah peristiwa di Lubuklinggau. Ada seorang anak bepergian ke Bukit Sulap. Mungkin karena berlari-lari atau buang air sembarangan, ada roh yang merasa terganggu, maka anak itu kerasukan. Romo/pendeta dipanggil untuk menyembuhkan anak itu, tapi tidak berhasil. Ustadz pun dipanggil, tapi juga tidak dapat menyembuhkannya. Akhirnya, dipanggillah romo agama Buddha. Beliau membacakan doa "Karaniya Metta Sutta", doa cinta kasih kepada semua makhluk. Rupanya makhluk yang ada di tubuh anak tersebut minta dibacakan sekali lagi paritta tersebut. Setelah dibacakan lagi, roh tersebut pergi dan anak itu pun sembuh. Inilah kekuatan cinta kasih universal. Di manapun kita berada, kita sebaiknya memancarkan cinta kasih kepada semua makhluk, "Sabbe Satta Bhavantu Sukhitatta."
Rabu, 16 September 2009
I'm not Stupid
Demikianlah yang telah kudengar:
Seseorang itu bodoh jika dia sudah tahu sesuatu itu salah tapi masih melakukan kesalahan.
Kalau seseorang itu tidak tahu, maka dia tidak bisa dikatakan bodoh, tapi Tidak Tahu.
Misalnya: kita tahu bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan karena dapat mengakibatkan penyakit. Tetapi, masih saja merokok. Itu bodoh namanya. Bagaimana supaya berhenti merokok? Ya, jangan beli rokok. Kalau terus-terusan minta kan malu. Karena malu nanti akhirnya bisa berhenti.
Berusahalah supaya tidak menjadi bodoh.
Bagaimana supaya tidak bodoh?
Kita harus banyak membaca buku pengetahuan, buku Dharma, membaca koran, atau menonton berita di televisi.
Banyak membaca akan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan kita.
Sumber: Ceramah Bapak Firman dan Bhante Viriyanadi.
Seseorang itu bodoh jika dia sudah tahu sesuatu itu salah tapi masih melakukan kesalahan.
Kalau seseorang itu tidak tahu, maka dia tidak bisa dikatakan bodoh, tapi Tidak Tahu.
Misalnya: kita tahu bahwa merokok tidak baik untuk kesehatan karena dapat mengakibatkan penyakit. Tetapi, masih saja merokok. Itu bodoh namanya. Bagaimana supaya berhenti merokok? Ya, jangan beli rokok. Kalau terus-terusan minta kan malu. Karena malu nanti akhirnya bisa berhenti.
Berusahalah supaya tidak menjadi bodoh.
Bagaimana supaya tidak bodoh?
Kita harus banyak membaca buku pengetahuan, buku Dharma, membaca koran, atau menonton berita di televisi.
Banyak membaca akan menambah pengetahuan dan memperluas wawasan kita.
Sumber: Ceramah Bapak Firman dan Bhante Viriyanadi.
Langganan:
Postingan (Atom)