Oleh: Bhante Saddhaviro Mahathera
"Memberikan Maaf kepada orang yang pernah menyakiti amat berat, karena sakit hati;
Dan, meminta maaf kepada orang yang pernah disakiti juga susah, karena gengsi;
Inilah belenggu pandangan keliru,
Karena merasa dirinya dirugikan
Bila memberi maaf dan meminta maaf."
Siapapun orangnya, membebaskan diri dari pandangan keliru itu adalah suatu hal yang sangat penting. Jika Anda sadar masih terbelenggu oleh pandangan keliru terhadap suatu hal, maka segeralah mengubah pandangan keliru itu.
Ini contoh sederhana pandangan keliru yang sering terjadi di masyarakat, "Apabila kita memafkan orang lain yang pernah berbuat salah kepada kita, seolah kita yang rugi. Dan, yang berbuat salah itu beruntung."
Pandangan keliru seperti di atas, hendaknya segera diubah. Akan lebih baik jika mempunyai pandangan begini, "Justru orang yang memberi maaf lebih beruntung. Karena dapat memberi maaf kepada orang lain. Ini sebagai sarana berbuat baik."
Bagi yang mempunyai pandangan benar terhadap maaf ini akan mempunyai pikiran: "Jangankan minta maaf, tidak minta maaf pun sudah dimaafkan kesalahannya."
Di sini, terdapat kebaikan dalam proses memaafkan itu. Pola benar ini kemudian kontak langsung dengan ucapan dan perbuatan, jadilah orang baik dan pemaaf. Bukan hanya yang memberi maaf, tapi juga bagi orang yang meminta maaf.
Bagi yang bersalah, harus membuang gengsinya untuk minta maaf. Bukan hanya meminta maaf, ia juga harus menyadari kesalahannya, dan bertekad tidak mengulanginya. Dalam hal ini, ia juga mendapat teladan untuk bisa memaafkan orang lain dan si pemberi maaf.
Dengan menjadikan maaf sebagai sarana berbuat baik, maka ganjalan dalam batin berkurang. Beban terasa ringan, bisa tersenyum, menyapa, bahkan berkatapun menjadi lancar. Jika tidak malu untuk meminta maaf, dan tidak sulit untuk memberi maaf, maka baik si pemberi maupun si peminta maaf, sama-sama berbuat baik.
Dari Buku "Cerita Tekad Orang Nekad"
Tampilkan postingan dengan label Bhante Saddhaviro Mahathera. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhante Saddhaviro Mahathera. Tampilkan semua postingan
Jumat, 25 November 2011
Jumat, 25 Maret 2011
Bebas Dari Kesalahan
Oleh: Bhante Saddhaviro Mahathera
Buku "Cerita Tekad Orang Nekad"
"Melihat kesalahan orang lain itu tidak salah;
Tetapi menyalahkan orang lain,
Itulah yang menjadi proses perbuatan salah;
Jika orang lain salah,
Sebaiknya jangan ikut berbuat salah dengan menyalahkan,
Pahami kesalahan sebagai kesalahan,
Jangan kesalahan menjadi sebab perbuatan salah lagi"...
Dari perenungan di atas, harus dibedakan antara melihat kesalahan orang dan mencari-cari kesalahan orang. Mencari kesalahan mempunyai unsur upaya. Ada kemungkinan terjadi, meski tidak ada kesalahanpun, akan dibuat menjadi salah. Berbeda dengan melihat kesalahan orang, di sini tidak ada upaya mencari, jadi tidak ada unsur kesengajaan. Namun, karena manusia belum sempurna, bisa berbuat salah.
Ketika mencari kesalahan orang lain maka sudah memulai perbuatan salah. Akan terlihat lebih jelas lagi jika menyalahkan orang lain yang tidak bersalah. Seandainya ada orang yang salah, tidak perlu disalahkan. Yang terbaik adalah menunjukkan kesalahannya dengan cara yang baik, sehingga tidak berbuat salah dari kesalahan orang lain. Apakah mungkin semua orang mampu beternak? Jawabannya, "tidak mungkin...!"
Tetapi sangat sulit untuk mencari orang yang tidak beternak kesalahan, dengan menyalahkan orang lain. Ini diawali oleh pola pikir bahwa menyalahkan orang adalah wajar dan baik.
Coba renungkan contoh ini.
Bila ada seorang pencopet yang kedapatan tangan sedang beraksi, apa yang dilakukan warga?
Jawabannya: tanpa disuruh pun warga akan "mengeroyoknya."
Ada yang memukul, menendang, mencaci, menjelek-jelekkan, dan semua tindakan menghakimi.
Pertanyaannya, apa menyadari bahwa mengeroyok, memukul, menendang, mencaci, menjelek-jelekkan copet itu perbuatan salah???
Mereka akan menjawab, "Copetnya yang salah."
Ini pembelajaran yang sangat berharga bagi kita. Manusia itu sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kesalahannya sendiri. Pepatah mengatakan, "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat." Perumpamaan ini sungguh tepat.
Manusia memang senang melihat kesalahan orang lain. Padahal itu cara yang salah, sehingga membuat dirinya berbuat salah. Hanya mereka yang melihat kesalahan sebagai kesalahan tanpa menyalahkan orang yang berbuat salah, malah menunjukkan kesalahan demi kebaikan, dialah orang yang tidak akan berbuat salah dengan menyalahkan.
Sumber: Kisah Buddhis Grup
Buku "Cerita Tekad Orang Nekad"
"Melihat kesalahan orang lain itu tidak salah;
Tetapi menyalahkan orang lain,
Itulah yang menjadi proses perbuatan salah;
Jika orang lain salah,
Sebaiknya jangan ikut berbuat salah dengan menyalahkan,
Pahami kesalahan sebagai kesalahan,
Jangan kesalahan menjadi sebab perbuatan salah lagi"...
Dari perenungan di atas, harus dibedakan antara melihat kesalahan orang dan mencari-cari kesalahan orang. Mencari kesalahan mempunyai unsur upaya. Ada kemungkinan terjadi, meski tidak ada kesalahanpun, akan dibuat menjadi salah. Berbeda dengan melihat kesalahan orang, di sini tidak ada upaya mencari, jadi tidak ada unsur kesengajaan. Namun, karena manusia belum sempurna, bisa berbuat salah.
Ketika mencari kesalahan orang lain maka sudah memulai perbuatan salah. Akan terlihat lebih jelas lagi jika menyalahkan orang lain yang tidak bersalah. Seandainya ada orang yang salah, tidak perlu disalahkan. Yang terbaik adalah menunjukkan kesalahannya dengan cara yang baik, sehingga tidak berbuat salah dari kesalahan orang lain. Apakah mungkin semua orang mampu beternak? Jawabannya, "tidak mungkin...!"
Tetapi sangat sulit untuk mencari orang yang tidak beternak kesalahan, dengan menyalahkan orang lain. Ini diawali oleh pola pikir bahwa menyalahkan orang adalah wajar dan baik.
Coba renungkan contoh ini.
Bila ada seorang pencopet yang kedapatan tangan sedang beraksi, apa yang dilakukan warga?
Jawabannya: tanpa disuruh pun warga akan "mengeroyoknya."
Ada yang memukul, menendang, mencaci, menjelek-jelekkan, dan semua tindakan menghakimi.
Pertanyaannya, apa menyadari bahwa mengeroyok, memukul, menendang, mencaci, menjelek-jelekkan copet itu perbuatan salah???
Mereka akan menjawab, "Copetnya yang salah."
Ini pembelajaran yang sangat berharga bagi kita. Manusia itu sangat mudah melihat kesalahan orang lain, tetapi sulit melihat kesalahannya sendiri. Pepatah mengatakan, "Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tidak terlihat." Perumpamaan ini sungguh tepat.
Manusia memang senang melihat kesalahan orang lain. Padahal itu cara yang salah, sehingga membuat dirinya berbuat salah. Hanya mereka yang melihat kesalahan sebagai kesalahan tanpa menyalahkan orang yang berbuat salah, malah menunjukkan kesalahan demi kebaikan, dialah orang yang tidak akan berbuat salah dengan menyalahkan.
Sumber: Kisah Buddhis Grup
Langganan:
Postingan (Atom)