Tampilkan postingan dengan label Apa yang Buddha Lakukan?. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apa yang Buddha Lakukan?. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 April 2013

Jika Pekerjaan Membosankan

Apa yang akan dilakukan Buddha dengan pekerjaan yang membosankan?


Mencari pasir ketika sedang membersihkan beras.
Mencari beras ketika sedang melemparkan pasir.
~Dogen, "Instruction for the Cook," Shobogenzo


Kita mudah sekali terbawa ke dalam kebodohan. Pikiran kita sangat hebat karena dia akan tertidur bila tidak kita gunakan, bahkan di saat kita terjaga sekalipun. Kebanyakan hari-hari kerja kita berlangsung seperti ini. Jika kita melewatkannya, kita akan sangat kehilangan.

Kata-kata Dogen tentang masakan mengingatkan kembali pada tugas-tugas kita sekarang ini. Pekerjaan terendah sekalipun menjadi hidup ketika kita memperhatikannya. Hal ini sulit dipercaya, tetapi saya telah membuktikannya. Membuat kopi memerlukan perhatian seksama, kemudian penyajian kopi tersebut memberikan kepuasan sejati. Pikirkan tentang meditasi: tidak ada yang bisa lebih lembut, karena bila kita melakukannya dengan benar, hal tersebut tidaklah membosankan. Pada saat kita membersihkan beras, kita harus melihatnya dari dekat. Ketika sedang melemparkan pasir, kita harus hati-hati. Melalui perhatian seperti ini, kita menemukan kepuasan; butiran-butiran padi itu menjadi barang kecil yang berharga.





Sumber: What Would Buddha Do?
By: Franz Metcalf.
Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer

Kamis, 22 November 2012

Jika Orangtua Tidak Memahami Kita


Apa yang dilakukan Buddha terhadap orangtua yang tidak memahami kita?


Semua orangtua secara alami mencintai anak-anaknya dan cinta itu takkan pernah pudar.
~ Jataka 544


Adalah sulit untuk mengubah pendapat orang lain. Begitu pula dengan orangtua kita. Bagaimanapun, ketika seorang anak sudah cukup dewasa untuk tidak setuju pada pendapat orangtua, orangtua tetap lebih tua. Orangtua masih ingat ketika Anda kecil dan nakal serta baru sedikit saja memahami sesuatu. Orangtua Anda telah lebih dahulu tahu manis-pahitnya dunia ini sejak Anda belum dilahirkan, dan hal tersebut tampaknya berlangsung dengan baik tanpa perlu tambahan pendapat Anda.

Orangtua Anda mencintai Anda dan Anda tidak perlu ragu-ragu mengajarkan sesuatu kepada mereka, tetapi untuk mengubah pendapat mereka tentang sesuatu hal adalah salah satu pekerjaan yang sangat sulit di dunia. Dalam hal ini, kita harus ingat dua hal. Pertama, hidup Anda adalah milik Anda sendiri, hidup mereka adalah milik mereka sendiri. Jadi biarkanlah mereka mempunyai pendapatnya sendiri. Kedua, seperti petunjuk Buddha, mereka secara alami mencintai Anda dan ingin Anda bahagia. Seandainya Anda benar-benar perlu mengubah pendapatnya, jangan lakukan dalam bentuk ucapan. Tunjukkan dengan sikap Anda, bahwa hidup Anda bahagia dengan cara pikir dan bertindak demikian.



Sumber: What Would Buddha Do?
By: Franz Metcalf.
Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer

Sabtu, 03 November 2012

Bosan??



Apa yang akan dilakukan Buddha jika merasa bosan?


Jika Anda merasakan satu hal membosankan,
Anda akan merasa segala sesuatu membosankan juga.
~ Dogen, “Guidelines for Studying the Way”


Kebosanan ada di dalam sifat kita, bukan di dalam dunia. “Jika Anda merasa bosan,” saya mendengarnya mengatakan, “Andalah yang membosankan.” Pikirkan tentang hal tersebut.

Ketika Anda bosan, Anda cenderung untuk bosan pada orang lain. Sebaliknya, ketika orang lain membosankan Anda, ini karena Anda membosankan. Anda adalah salah satu orang yang terlibat dalam tindakan membosankan. Kebosanan ini bukanlah dari dunia, tetapi dari diri Anda yang membosankan dunia. Inilah yang dimaksud Buddha.

Dengan demikian, ketika Anda merasa bosan, berhentilah melakukan hal tersebut. Lihatlah ke dalam diri dan bertanya pada diri sendiri, “Mengapa saya menjalani hidup ini?” Jawaban pertanyaan ini memulihkan Anda dan kehidupan dunia dari kebosanan.



Sumber:
What would Buddha do?

Jumat, 06 Mei 2011

Bagaimana Agar Bahagia?

Mencari kesehatan, berkat yang paling melimpah; ikutilah kebajikan.
Dengarkan orang-orang; bacalah buku-buku yang baik.
Jadilah orang jujur; patahkan mata rantai kepedihan.
Ini adalah enam jalan kemuliaan yang menuju kepada kebaikan yang paling sempurna.

~ Jataka 84


Apa yang akan dilakukan Buddha agar berbahagia?
Ini adalah pertanyaan yang sanat umum dan juga sebuah jawaban yang sangat umum. Hal tersebut bagus karena pada konteks di sini, umum berarti berkekuatan dan inklusif. Perkataan Buddha mungkin yang paling sederhana. Meskipun demikian, memuat nasihat yang paling praktis untuk dilakukan semua pengikut Buddha.

Pertama, jagalah kesehatan Anda; dengan badan sehat kita mempunyai kekuatan untuk menjalankan lima jalan kemuliaan yang lain. Kemudian, berbuat kebajikan - bukan kesempurnaan, bukan kesepakatan moralitas, bukan mengejar kesenangan belaka; tetapi kejarlah kebajikan. Belajarlah baik dari orang-orang, buku, internet, dan dari mana saja. Bicaralah jujur; hal yang sederhana. Akhirnya, bebaskan diri Anda dari rantai prasangka, menguasai, mengeluh, dan sesuatu yang paling Anda sukai. Jika Anda melaksanakan hal ini, Anda berjalan menuju kebahagiaan yang sejati, baik bagi diri Anda sendiri maupun makhluk hidup yang lain. (Anda tidak menyadari bahwa apa yang diungkapkan Buddha merupakan kebajikan terbesar milik Anda sendiri, kan?)Syukurlah, kebajikan ini ada di mana-mana.


Sumber: What would Buddha do?

Kamis, 05 Mei 2011

Perlukah Berdebat?

[Pidato yang benar] dipidatokan dengan benar, tidak salah kata;
masuk akal, bukan tidak masuk akal;
menyenangkan, bukan tidak menyenangkan;
benar, bukannya tidak benar.

~ Sutta Nipata 449

Kita perlu berbicara. Kadang-kadang kita bahkan melakukannya dengan bijaksana dan baik, tetapi kita biasanya melakukannya dalam cengkeraman kemarahan, frustrasi atau ketidakpedulian. Saya tidak dapat mengatakan kepada Anda berapa kali saya merasa terdorong untuk marah karena komentar-komentar yang ditujukan pada istri saya, menyadari betapa bodohnya saya melakukan hal tersebut, hanya untuk kesenangan diri. Kita melakukan hal seperti itu.

Buddha menganjurkan cara lain. Bhikkhu tidak pernah ikut serta dalam pembicaraan yang bersifat merusak; bagi mereka ini adalah peraturan yang harus ditaati. Bagi kita, hal ini merupakan ajaran untuk diikuti, tetapi memang hal ini baik. Pikirkan kembali hidup Anda dan hitunglah apakah dengan cara kebohongan dan penghinaan Anda telah mengubah seseorang atau sesuatu menjadi lebih baik? Saya pribadi tidak pernah menemukan hal yang demikian, tetapi saya telah mengubah orang dan benda menjadi lebih baik dengan mengikuti nasihat Buddha, bahkan dalam suatu pertengkaran sengit. Kadangkala ketika istri saya dan saya dapat menguasai lidah kami sehingga pembicaraan menjadi lebih menyenangkan, pertengkaran berubah menjadi sukacita.



Sumber: What Would Buddha Do?
By: Franz Metcalf.
Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer

Rabu, 04 Mei 2011

Benar atau Salah?

Sesuatu dapat terlihat buruk, tetapi dapat juga terlihat baik.
Sama sepertinya, sesuatu yang buruk tidaklah terlihat buruk.
Tindakan yang benar tidak nyata terlihat benar.

~ Jatakamala 28.40


Buddha mendorong kita untuk melakukan pekerjaan dan tidak menunda-nunda. Tetapi karena penampilan dapat menipu, bahkan pada dunia benar dan salah, tidak berarti kita harus bertindak tanpa berpikir.

"Bertindak benar" adalah salah satu aspek dari Delapan Jalan Kemuliaan. Kita harus mempertahankan tindakan benar di setiap lamgkah kita biarpun dalam situasi yang tidak jelas. Di saat keadaan menipu kita, gunakanlah kesucian pikiran dan bersikap hati-hati. Di samping itu, segala sesuatu harus masuk akal atau terbukti agar kita tetap di jalan yang benar. Hal ini tidaklah mudah. Siapa yang mengatakan pada anda bahwa hal ini mudah dilakukan? Buddha mengatakan kita dapat melakukannya, dan pada akhirnya kita pasti dapat melakukannya.



Sumber: What Would Buddha Do?

Selasa, 07 Desember 2010

Mengatasi Rasa Benci

Apakah yang akan dilakukan Buddha jika seseorang membencinya?

Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan cinta kasih.
Inilah hukum abadi.
~ Dhammapada 5

Dengan sedikit kata-kata, Buddha mengajarkan hukum rohani terbesar. Penyair Romawi Virgil menulis "cinta kasih mengalahkan segalanya." Saya percaya bahwa dalam beberapa hal, cinta tidak dapat menyelesaikan masalah, namun cinta mampu menaklukkan kebencian. Mengapa? Karena kebencian tidak mampu melawan. Kekerasan, balas dendam, bahkan kadang-kadang pemberontakan ditambahkan dalam energi luar biasa untuk mewujudkan kebencian. Di lain pihak, cinta menyedot energi dari kebencian dan mengalihkannya seperti pasukan perang-hanya ini bukannya seni berperang, tetapi seni cinta kasih. Seperti lirik sebuah lagu, "Hanya cinta yang dapat menaklukkan kebencian."

Cinta mengatasi kebencian dengan cara yang tidak dipahami oleh kebencian, dengan sesuatu di luar dirinya-dengan penuh kasih. Kebencian tidak dapat mengatasi rasa benci. Kebencian menunjukkan kekuatannya dengan cara membela dirinya sendiri. Cinta hidup melampaui dirinya sendiri, menunjukkan kekuatannya dengan perbuatan. Dengan demikian, cinta dapat memahami rasa benci, menyatukannya menjadi sesuatu yang lebih luas dan perlahan-lahan kebencian tersebut dapat dikalahkannya, seperti sebutir garam larut ke dalam manisnya kolam.

Sumber: What Would Buddha Do?
By: Franz Metcalf.
Penerbit PT. Bhuana Ilmu Populer