Minggu, 17 Januari 2010

Engkau Akan Segera Meninggal


Pada waktu itu, Sang Buddha sedang bersemayam di Vihara Jetavana, Savatthi.
Ketika itu lewatlah seorang pedagang kaya raya bernama Mahadhana. Ia membawa lima ratus kereta yang dipenuhi berbagai macam bahan baju yang indah-indah, yang dicelup dengan wewangian. Ia berangkat dari Benares untuk berdagang, menjual barang dagangannya itu ke Savatthi.

Ketika ia sampai di tepi sungai besar di dekat Savatthi, karena lelah, ia lalu memutuskan: “Besok sajalah saya menyeberangi sungai ini, karena saya amat lelah.” Ia lalu menempatkan kereta-keretanya di tepi sungai dan bermalam di sana. Ternyata pada malam itu turun hujan lebat, kilat menyambar-nyambar dengan dahsyatnya. Selama tujuh hari, hujan turun amat lebatnya, sehingga air sungai meluap, dan selama tujuh hari itu pula penduduk di sekitar tempat tersebut tidak dapat bekerja, hanya berdiam di dalam rumah saja. Akibatnya, Mahadhana si pedagang itu kehilangan kesempatan untuk menjual barang dagangannya.

Ia berpikir: “Saya datang dari tempat yang jauh, kalau saya pulang kembali saya akan rugi besar, kalau begitu biar sajalah saya tetap di sini selama musim hujan, musim gugur dan musim panas, sampai barang dagangan saya habis terjual.”

Sang Guru Agung ketika itu sedang menerima dana dari umatnya dan merjalan melewati kota. Beliau tersenyum karena mengetahui tekad si pedagang.
Bhikkhu Ananda yang mengiringNya bertanya: “Mengapa Yang Mulia tersenyum?”
Sang Buddha lalu berkata: “Ananda, apakah engkau melihat pedagang yang kaya raya itu?”
“Ya, saya melihatnya, Yang Mulia.”
“Ia tidak menyadari bahwa kehidupannya hampir berakhir, padahal ia mengambil keputusan untuk tinggal di sana sepanjang tahun ini, untuk menjual barang dagangannya.”
“Tetapi Yang Mulia, apakah benar hidupnya akan segera berakhir?”
“Ya, Ananda, ia hidup tinggal tujuh hari lagi, kemudian ia akan mati dimakan seekor ikan besar.”

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair:

“Berbuatlah untuk dirimu sendiri, dan apa yang dapat dilakukan pada hari ini.
Siapa yang mengetahui bahwa pada esok hari kematian akan datang?
Kita tidak dapat melawan kematian dan bukanlah pemilik kematian.”

“Kebahagiaan adalah orang-orang yang hidup bersemangat pada siang dan malam hari, tidak khawatir meskipun ia hidup hanya satu malam.
Ia aman, tenang dan bijaksana.”

“Yang Mulia, saya akan pergi menemuinya dan mengatakan hal ini kepadanya.”
“Pergilah Ananda.”

Bhikkhu Ananda segera pergi mengunjungi Mahadhana. Pedagang kaya raya itu menyambut Bhikkhu Ananda dengan penuh hormat. Ia lalu mempersembahkan dana makanan dan lainnya.

Setelah itu Bhikkhu Ananda bertanya: “Berapa lamakah Anda berniat tinggal di sini?”
“Yang Mulia, saya datang dari tempat yang jauh, kalau sekarang saya kembali, saya akan menderita kerugian besar, jadi lebih baik saya tetap tinggal di sini sepanjang tahun, setelah saya berhasil menjual barang dagangan ini, saya akan segera pulang.”
“Saudara, apabila seseorang mengetahui kehidupannya akan segera berakhir, tentu saja amat sulit bagi orang itu untuk menerima kenyataan ini, tetapi bagaimanapun juga hal ini harus kita perhatikan.”
“Mengapa, Yang Mulia, apakah hidup saya hampir berakhir?”
“Ya, Saudara, kamu hanya akan hidup tujuh hari lagi, kamu akan segera meninggal.”

Mahadhana yang mendengar berita itu amat kaget, gelisah, bingung, dan juga sedih. Setelah ia berhasil mengatasi segala kekacauan perasaannya, ia lalu mengundang Sangha yang dipimpin oleh Sang Buddha untuk menerima dana yang dipersembahkannya.

Selama tujuh hari berturut-turut, Sang Buddha menerima undangannya. Pada hari ketujuh, Sang Buddha mengambil mangkuk dan jubahnya, lalu mengucapkan terima kasih dengan berkata:
“Anakku, seseorang yang bijaksana tidak akan pernah membiarkan dirinya berpikir, ‘Di sinilah saya akan tinggal selama musim hujan, musim gugur dan musim panas. Saya akan melakukan pekerjaan ini dan saya akan melakukan pekerjaan itu.’ Lebih baik seseorang bermeditasi pada akhir kehidupannya.”

Sambil berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair:

“Di sini aku berdiam selama musim hujan, di sini aku berdiam selama musim gugur dan musim panas, demikianlah pikiran orang bodoh yang tidak menyadar bahaya (kematian).”

(Dhammapada, Magga Vagga: 14)

Ketika Sang Buddha mengakhiri ucapannya, pedagang itu memperoleh Tingkat Kesucian; demikian pula orang-orang yang hadir di sana memperoleh manfaat yang besar bagi diri mereka masing-masing setelah mendengarkan Dhamma yang diajarkan Sang Buddha sendiri.

Pedagang itu mengantarkan Sang Buddha pergi. Setelah itu ia kembali ke tempatnya.
“Oh, kepalaku ini sakit, pasti ada yang kurang beres,” katanya.
Ia berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia. Tetapi karena perbuatan baik yang amat besar telah dilakukannya di akhir kehidupannya, ia terlahir kembali di Alam Surga Tusita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar